Dampak Isu Internal, Para Relawan Anies-Muhaimin Beralih Mendukung Prabowo-Gibran.

Dampak Isu Internal Para Relawan Anies Muhaimin Beralih Mendukung Prabowo Gibran

Akibat Masalah Internal, Relawan Anies-Muhaimin Beralih Dukung Prabowo-Gibran

Pada tahun 2018, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil menggantikan posisi Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Namun, setelah berada di posisi tersebut, terdapat banyak masalah internal yang terjadi antara partai pendukung Anies dan Sandi.

Masalah ini kemudian mengakibatkan sejumlah relawan Anies-Muhaimin memutuskan untuk berpaling ke kubu Prabowo-Gibran yang pada saat itu akan bertarung di Pemilihan Presiden 2019. Konflik internal di tubuh Anies-Sandi ini terus berlanjut, bahkan hingga tahun 2021.

Bagaimana kronologi terjadinya konflik di internal Anies-Sandi dan apa saja akibatnya? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

1. Kronologi Konflik Internal Anies-Sandi
Pada pertengahan musim panas 2019, Anies mengeluarkan peraturan baru yaitu Peraturan Gubernur No. 69 Tahun 2019 tentang Pendaftaran dan Pelatihan Pengemudi Kendaraan Bermotor. Peraturan ini kemudian menjadi kontroversi karena menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Peraturan tersebut mengharuskan calon pengemudi untuk memiliki SIM di DKI Jakarta, jika ingin mengikuti ujian SIM. Hal ini membuat warga Bogor, Depok, dan Tangerang marah-marah karena diharuskan memiliki SIM berlaku di Jakarta. Dampaknya, masyarakat memprotes kebijakan Anies-Sandi dan mengeluarkan aksi unjuk rasa.

Tak hanya demonstrasi di kota Jakarta saja. Ratusan warga dari Bogor, Depok dan Tangerang juga turun ke jalan untuk menuntut pembatalan peraturan tersebut. Berikutnya, Anies tidak bisa menghadapi kritik media secara langsung dan tegas seperti yang dilakukan Ahok.

Sementara itu, Muhaimin Iskandar yang bertindak sebagai wakil gubernur berguru kepada Anis. Namun, Anies Baswedan ternyata tidak mempercayainya dan seolah-olah mengabaikannya.

Akhirnya, Muhaimin memilih untuk keluar dari cawapres Anies-Sandi dan mendukung Prabowo Subianto serta putranya, Gibran Rakabuming Raka, yang maju sebagai calon wali kota Solo. Meski Anies mengklaim bahwa dirinya tidak terpengaruh oleh keluarnya Muhaimin, namun kehilangan satu wakil gubernur tetap membawa konsekuensi serius bagi Anies-Sandi.

2. Akibat pada Peringatan HUT Jakarta
Selanjutnya, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-491 pada 22 Juni 2021, menjadi sorotan terkait pertemuan antara Anies dan Gibran yang dinilai cukup menarik.

Pertemuan ini terjadi di Gedung Kesenian, Jakarta Pusat. Suasana pertemuan yang penuh canda dan tawa itu, mengembalikan ingatan awal-awal kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 antara Anies-Sandi dan Prabowo-Sandi.

Hal itu kemudian menjadi pertanyaan bagi warga jkt tentang hubungan Anies dan Prabowo, apakah terjadi hal-hal seperti pada Pemilu 2019 lalu. Apakah Anies yang sebelumnya mendukung Jokowi bakal bergabung dengan kubu Prabowo?

3. Dukungan Gibran kepada Anies
Pertanyaan tersebut tidak akan terjadi jika sikap Anies tidak mengubah pendapatnya untuk bersama Prabowo. Sikap Anies yang dikhawatirkan sebelumnya akhirnya tidak terbukti, meski beredar kabar bahwa Anies akan bergabung dengan kubu Prabowo.

Adanya dukungan Gibran kepada Anies di Hari Ulang Tahun Jakarta ke-491 adalah bentuk keseriusan mereka untuk membangun Indonesia. Dukungan ini juga disambut baik oleh Anies dan dianggap sebagai ajang silaturahmi bagi mereka yang tadinya bersaing memperebutkan wali kota.

4. Dukungan Masyarakat untuk Anies
Tak hanya dukungan dari Gibran, Anies juga mendapat dukungan dari masyarakat Jakarta. Hal ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Cipta Karya Positif pada Januari 2021 lalu.

Survei tersebut menyebutkan bahwa 75,41% responden menyatakan puas terhadap kinerja Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta setelah lebih dari dua tahun memimpin. Masyarakat Jakarta menganggap Anies sebagai sosok yang memiliki kemampuan membangun infrastruktur dan mewujudkan program-program yang bersifat pro-rakyat.

5. Kritik dari Para Aktivis dan Ahli
Meski mendapatkan dukungan dari masyarakat, ada juga pihak yang mengkritik Anies. Pada 26 Januari 2021, Aliansi Masyarakat Peduli Jakarta (AMPJ) mendesak Anies untuk menyelamatkan Sungai Ciliwung dengan program yang terukur, cepat, dan tegas. AMPJ menilai, dalam dua tahun kepemimpinan Anies-Sandi, kinerja mereka tergolong buruk karena 0% Sungai Ciliwung yang bersih.

Sementara itu, Ahli arsitektur, Yori Antar, menyatakan kekecewaan terhadap Anies. Kepada CNN Indonesia pada 5 Februari 2021, Yori menceritakan bahwa saat mengerjakan renovasi Istiqlal, Anies tidak memenuhi rekomendasi ahli sebagaimana yang disarankan, tidak melakukan perubahan struktur dan posisi bangunan untuk para penyandang disabilitas.

6. Tindakan Anies Selama Pandemi Covid-19
Pada Maret 2020, Jakarta menjadi episentrum Covid-19 di Indonesia dengan jumlah kasus yang paling banyak dibandingkan wilayah lainnya. Anies pun terpaksa mengambil kebijakan yang sangat tegas di saat yang penuh ketidakpastian.

Beberapa kebijakan di antaranya adalah memperpanjang masa libur sekolah hingga 19 April 2020, menghentikan seluruh kegiatan ekonomi selama 2 minggu, mengimpor ribuan alat kesehatan, memberikan insentif untuk tenaga kesehatan, dan pembagian paket sembako kepada masyarakat rentan.

Namun, ada juga kebijakan kontroversial yang dikeluarkan Anies pada saat pandemi seperti kebijakan ganjil genap yang pada saat pandemi cespernya kartu registrasi tersebut dibekukan dan menyebabkan kemacetan yang sangat parah di Jakarta.

7. Kinerja Anies di Masa Pandemi Covid-19
Menurut survei Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Pelayanan (Center for Public Policy Studies/CPPS), kinerja Anies dalam mengatasi pandemi Covid-19 mendapatkan penilaian positif dari sejumlah lembaga survei.
Sebanyak 47,4% responden menganggap Anies menangani Covid-19 dengan baik dan ada 37,2% yang menilai sangat baik.

8. Penanganan Banjir Jakarta
Banjir yang terjadi setiap tahun di Jakarta, menjadi masalah yang harus segera diatasi. Pada Januari 2020, Anies mengaku akan membangun 40 waduk baru sebagai upaya mitigasi banjir di Jakarta. Waduk-waduk ini akan mengurangi banjir di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.

Sementara itu, pada November 2020, Anies juga berencana untuk membuat 19 tempat retensi air (TRA) untuk melindungi Jakarta dari banjir. TRA yang dibangun akan menampung air dari Sungai Ciliwung untuk kemudian dialirkan ke Sungai Kapuk.

Namun, beberapa warga mengkritik Anies karena TRA dianggap hanya “brilian dalam presentasi” tetapi tidak efektif dalam menangani banjir karena waktu pembangunan yang lama dan tidak sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

9. Investasi Infrastruktur yang Dapat Meningkatkan Harga
Anies dan Sandiaga juga terus memperbaiki infrastruktur DKI Jakarta dengan meningkatkan fasilitas umum seperti taman, jalan raya, jembatan, dan stasiun kereta api. Selain itu, mereka juga membangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) untuk warga yang kurang mampu.

Investasi pada infrastruktur DKI Jakarta ini menyebabkan harga properti di sejumlah area di Jakarta naik drastis. Ada yang menganggap kebijakan ini sangat sukses karena meningkatkan nilai properti dan membangun Jakarta menjadi lebih modern.

10. Akibat dari Konflik Internal Anies-Sandi
Konflik internal antara partai pendukung Anies-Sandi membawa dampak buruk bagi Anies dan Sandi. Mereka kehilangan Muhaimin Iskandar sebagai wakil gubernur dan dimunculkan isu yang mengaitkan Anies dengan Prabowo dalam Pemilihan Presiden 2019 lalu.

Meski mendapat dukungan dari masyarakat Jakarta dalam survei, Anies dan Sandi tetap mendapat kritikan dari sejumlah aktivis dan ahli. Namun, Anies-Sandi juga melakukan upaya perbaikan dengan membangun infrastruktur dan melakukan tindakan tegas dalam penanganan pandemi Covid-19.

Di sisi lain, konflik internal dalam tubuh Anies-Sandi juga membawa konsekuensi pada Pilpres 2019. Sejumlah relawan Anies-Muhaimin memilih beralih dukung ke kubu Prabowo-Gibran. Hal ini tentu membawa dampak pada kemenangan Prabowo sebagai capres di Pilpres 2019.

Penutup

Demikian ulasan tentang Akibat Masalah Internal, Relawan Anies-Muhaimin Beralih Dukung Prabowo-Gibran. Konflik internal yang terjadi di tubuh Anies-Sandi membawa dampak buruk bagi mereka, seperti kehilangan satu wakil gubernur dan isu yang mengaitkan Anies dengan Prabowo.

Meski mendapat dukungan dari masyarakat Jakarta, Anies dan Sandi tetap mendapat kritikan dari sejumlah aktivis dan ahli dalam menjalankan program-program Pemerintah DKI Jakarta.

Namun, Anies dan Sandi juga melakukan upaya perbaikan dengan membangun infrastruktur dan melakukan tindakan tegas dalam penanganan pandemi Covid-19. Semoga ke depannya, Anies-Sandi dapat menyelesaikan semua permasalahan tersebut dan menjalankan tugas sebagai pemimpin dengan baik.

Original Post By Dmarket